Langsung ke konten utama

STRUKTUR SOSIAL DAN KEDUDUKAN BURUH


STRUKTUR SOSIAL DAN KEDUDUKAN BURUH

Pengertian Struktur Sosial
            Manusia adalah makhluk sosial. Karena itu, manusia cenderung hidup dalam unit-unit sosial. Dalam unit sosial ada mekanisme sosial yang menerapkan peraturan tertentu, lengkap dengan imbalan dan sanksinya dalam peraturan formal maupun peraturan informal.
            Suatu unit sosial biasanya cenderung membedakan tindakan para anggotanya menurut dua dimensi, yaitu vertikal (stratifikasi) dan horizontal (diferensiasi). Berdasarkan kekayaan yang diperoleh dari pekerjaan dapat dibagi dalam beberapa lapisan (strata).
            Unit sosial biasanya memberikan peran tersendiri kepada para anggotanya. Peran baru dapat menjadi tindakan ketika orang menjalankan hak dan kewajiban yang ditetapkan secara normatif.
            Dengan memahami struktur sosial maka kita dapat menganalisis suatu fenomena sosial, sehingga dapat dilihat bahwa:
1.      Buruh bertindak secara seragam, yang bersifat tipikal, khas, unik apabila dibandingkan dengan anggota lainnya;
2.      Buruh menempati posisi tertentu dalam stratifikasi dan diferensiasi;
3.      Ada hubungan-hubungan tertentu antara buruh dengan para anggota lainnya;
4.      Munculnya masalah-masalah perburuhan harus dikaji secarakomprehensif, bukan sekadar dari buruh itu sendiri, melainkan juga dari para anggota unit sosial lainnya.
            Secara tidak langsung buruh menyadari bahwa ia adalah kelompok yang terorganisasi, relatif lebih terdidik, memiliki dukungan politik, yang memadai dari masyarakat, mampu melakukan tekanan-tekanan baik terhadap perusahaan maupun pemerintah. Masyarakat, melalui negara, memang memberikan hak formal kepada buruh untuk melakukan pemogokan, bahkan sejumlah masyarakat mendorongnya.

Kedudukan Buruh di Pabrik
            Dari satu segi, pabrik dapat dipandang sebagai unit sosial. Karena itu, sebagaimana keluarga atau masyarakat, ia memiliki struktur sosial. Para anggotanya dapat dibedakan secara vertikal (stratifikasi) dan secara horizontal (diferensiasi).
1.      Stratifikasi
Secara vertikal pada dasarnya pabrik terdiri dari tiga kelompok:
1.      Industrialis atau pengusaha pada puncak stratifikasi Pengusaha dapat dibagi dalam subkelompok pemilik sekaligus pengusaha (manajemen) dan pemilik tanpa jabatan struktural dalam perusahaan
2.      Manajemen, pengendali utama kegiatan pabrik sehari-hari yang kekuasaannya bersumber pada profesional atau profesional dan kepemilikan. Manajemen dapat dibagi dalam subkelompok manajemen puncak (top management), manajemen menengah (middle management), staf pendukung (supporting staff).
3.      buruh, tidak memiliki modal, alat produksi, keterampilan otak yang memadai. Buruh dapat dikelompokkan dalam subkelompok manajemen tingkat pertama, kepala regu, buruh massal.
4.      Manajer lebih suka mengangkat mandor dari luar dengan pertimbangan memiliki pemahaman yang lebih baik dalam mengoperasikan dan atau mengawasi mesin dan pekerjaan pada umumnya, lebih mudah berkomunikasi dengan pihak manajer, dan lebih loyal kepada manajer.
2.      Diferensiasi
Secara horizontal sebenarnya setiap buruh massal berada dalam kedudukan yang sama, hal yang membedakan adalah spesifikasi bidang tugas dan atau divisi asal buruh yang ada di pabrik. Ada beberapa pengecualian kecil, yaitu dalam beberapa kasus terjadi hubungan buruh yang bersifat silang. Selain pemimpin formal dalam pabrik, kadang-kadang ada pemimpin informal dan kadang-kadang ada juga peraturan nonformal yang disepakati bersama. Pelanggaran terhadap kesepakatan non-formal akan mendapat sanksi sosial dari para buruh.

Kedudukan Buruh dalam Masyarakat
            Dalam beberapa hal ada kesejajaran antara struktur sosial di pabrik dengan struktur sosial di masyarakat. Stratifikasi sosial ada enam lapisan atas-atas, atas-bawah, menengah-atas, menengah-bawah, bawah-atas, dan bawah-bawah. Stratifikasi ini dapat disederhanakan menjadi tiga tetapi dapat menghilangkan informasi yang relevan. Lapisan paling atas adalah menteri. Lapisan atas-bawah adalah Gubernur, perwira tinggi, guru besar, dan pengusaha besar. lapisan menengah-atas terdiri dari diplomat, Kepala Dati II, dokter, dosen, perwira menengah hingga pengusaha skala menengah. Lapisan menengah-bawah terdiri dari akuntan, asisten manajer, pastur, guru, pramugari, pengusaha kecil hingga petani sedang dan pegawai TU.
            Lapisan bawah-atas terdiri dari masinis, nelayan, montir, sopir, satpam Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Anda telah mempelajari kedudukan buruh dalam masyarakat. Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang topik tersebut, coba Anda buat perbandingan stratifikasi buruh di pabrik dan masyarakat. hingga tukang bangunan. Lapisan bawah-bawah terdiri dari kondektur, pesuruh, pembantu, tukang becak, pengemis dan gelandangan.
            Pabrik hanya mempunyai 4 lapisan, yaitu atas-bawah, menengahatas, menengah-bawah, bawah-atas.

HUBUNGAN INDUSTRIAL
Hakikat hubungan Industrial
            Hubungan industrial merupakan suatu sistem hubungan yang terbentuk di antara pelaku proses produksi barang atau jasa yang melibatkan sekelompok orang dalam suatu organisasi kerja. Tujuan darihubungan industrial adalah meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja dan pengusaha. Produktivitas dan kesejahteraan merupakan dua hal yang saling berkaitan erat dan saling mempengaruhi.
            Peningkatan produktivitas perusahaan dan kerja tidak bisa dicapai apabila kesejahteraan pekerja tidak diperhatikan atau diberikan harapan tentang kesejahteraan yang lebih baik di masa depan. Demikian juga sebaliknya, kesejahteraan pekerja tidak bisa dipenuhi atau ditingkatkan apabila tidak terjadi peningkatan produktivitas perusahaan dan kerja. Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
            Hubungan industrial dapat dijelaskan dengan pendekatan tertentu dari berbagai pendekatan yang ada. Pendekatan-pendekatan itu, antara lain unitaris (unitary), pluralis (pluralist), marxist (radikal). Sementara itu, J. Dunlop mengemukakan bahwa dalam menganalisa hubungan industrial perlu mempertimbangkan peraturan-peraturan di tempat kerja (the rules of the workplace) sebagai variabel dependen yang dipengaruhi oleh interaksi para pelaku hubungan industrial sebagai variabel independen. Proses interaksi itu (variabel independen), meliputi 3 hal berikut.
1.      Status relatif dari pelaku (the relative status of the actor).
2.      Konteks di mana para pelaku berinteraksi (the context in which the seactors interact).
3.      Ideologi dari sistem hubungan industrial (the ideology of the industrial relation system).
            Perselisihan industrial biasanya diawali dengan tuntutan pekerja, baik secara lisan maupun tulisan. Perselisihan timbul ketika usulan atau tuntutan pekerja tidak segera ditanggapi oleh pihak pengusaha, tidak segera dilakukan perundingan atau karena kesepakatan antara manajemen dan pekerja tentang jenis tuntutan atau nilai tuntutan belum tercapai. Perselisihan industrial dapat diartikan sebagai perselisihan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja atau serikat pekerja menyangkut masalah hak, kepentingan, dan pemutusan kerja serta perselisihan antarserikat pekerja di satu perusahaan.

Hubungan Industrial di Indonesia
            Hubungan industrial pada awal kemerdekaan di mana masih diwarnai oleh orientasi politik. Pada masa ini seluruh tenaga dan pikiran dicurahkan untuk mempertahankan kemerdekaan sehingga polarisasi dalam hubungan industrial tidaklah terasa. Polarisasi dalam hubungan industrial mulai dirasakan ketika pada Tahun 1947 terbentuk serikat buruh SOBSI yang berorientasi pada komunisme.
            Pada masa pemerintahan Orde Baru, terjadi gerak balik perkembangan hubungan industrial, seperti pada masa kolonial di mana pemerintah terlibat jauh dalam penataan hubungan industrial di Indonesia. Dengan kata lain, kalau pada masa Orde Lama gerakan buruh menjadi riuh rendah dengan politik maka pada masa Orde Baru gerakangerakan buruh menjadi sepi secara politik. Bahkan buruh diasingkan, diabaikan dari politik, dan gerakan buruh dibatasi di bawah wadah tunggal serikat buruh atau yang dikenal dengan istilah political labor union.
            Kemunculan Hubungan Industrial Pancasila (HIP) dapat dikatakan merupakan bagian dari restrukturisasi gerakan buruh di Indonesia oleh pemerintahan Orde Baru. Langkah restrukturisasi dimaksudkan, antara lain untuk meredam ancaman aktivitas politik buruh terhadap stabilitas sosial politik yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Orde Baru menjalankan 2 langkah sekaligus, yaitu penataan pada aspek kelembagaan dan aspek ideologi
            Salah satu perubahan penting akibat kebijakan desentralisasi adalah munculnya sistem hubungan industrial yang memungkinkan para buruh bebas mendirikan serikat buruh pada tingkat perusahaan sesuai dengan UU No. 21/2000. Di samping itu, pemerintah juga telah meratifikasi beberapa konvensi ILO (International Labor Organization-PBB), termasuk Konvensi No. 87 Th. 1948 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi.

GERAKAN BURUH DAN SERIKAT BURUH
Gerakan Buruh
            Gerakan buruh merupakan istilah yang digunakan secara luas untuk menjelaskan dinamika organisasi kolektif para pekerja atau buruh dalam rangka menuntut perbaikan nasib mereka kepada majikan (pengusaha) dan kebijakan-kebijakan perburuhan yang pro-buruh dan adil. Revolusi Industri merupakan istilah yang digunakan oleh ilmuwan sosial untuk menjelaskan perubahan besar pada alat-alat produksi di Inggris beserta konsekuensi sosialnya sejak pertengahan Abad ke-18.
            Revolusi Industri yang ditandai oleh adanya penemuan mesin uap telah mengubah secara permanen hubungan buruh-majikan. Pada saat itu, bangsa Inggris mengalami sebuah transformasi berupa peralihan dari era pertanian menuju era industri. Peralihan ini tentu saja berdampak pada perubahan budaya kerja, metode kerja, upah kerja. Jika pada era pertanian yang menjadi penguasa adalah para tuan tanah, maka pada era industri yang menjadi penguasa adalah para pengusaha (pemberi kerja). Para pengusaha (pemberi kerja) inilah yang menentukan sepenuhnya nasib para buruh.
            Secara sederhana, gerakan-gerakan buruh dapat dikelompokkan ke dalam kategorisasi sebagai berikut.
1.      Gerakan buruh yang berorientasi untuk menyejahterakan para anggotanya sehingga para anggotanya mendapatkan keuntungan, seperti jaminan sosial, jaminan kesehatan, dan uang pensiun. Salah satu serikat buruh tertua yang tercatat dalam sejarah, Friendly Societies, didirikan untuk mewujudkan tujuan tersebut.
2.      Gerakan buruh yang bertujuan untuk melakukan tawar-menawar secara kolektif (bargaining collective) sehingga mereka dapat bernegosiasi dengan para pengusaha mengenai upah dan kondisi kerja yang manusiawi.
3.      Gerakan buruh yang berorientasi untuk melakukan perlawanan tindakan industri, seperti pemogokan.
4.      Gerakan buruh yang berorientasi kepada aktivitas politik. Di antara tujuan gerakan ini berupaya untuk mewujudkan legislasi yang adil buat para buruh. Gerakan ini biasanya berwujud partai politik, seperti halnya Partai Buruh di Inggris yang berawal dari gerakan buruh.

Tindakan Perburuhan
            Pada hakikatnya tindakan perburuhan adalah upaya menunjukkan kekuasaan kepada pihak manajemen pabrik dengan cara memanipulasi jumlah untuk mengganggu jalannya kegiatan produksi. Dalam terminologi lain, tindakan perburuhan adalah suatu aksi yang bersifat politik, bahkan di beberapa negara Eropa Barat, buruh mendirikan partai dan mampu memegang kendali pemerintahan.
            Jenis-jenis Tindakan Perburuhan ada 5 yang masing-masing mempunyai pengertian, bobot kekuasaan, dan implikasi tersendiri. Jenisjenis tindakan perburuhan tersebut adalah gerakan pengorganisasian, pelambatan kerja, boikot, sabotase, dan pemogokan.

Serikat Buruh
            Serikat buruh merupakan asosiasi para buruh yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan sosial buruh. Serikat buruh merupakan representasi dari masing-masing anggotanya untuk melakukan negosiasi dengan pengusaha terkait dengan semua aspek yang terkandung dalam kontrak kerja, termasuk di dalamnya adalah Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Anda telah mempelajari materi Kegiatan Belajar 3. Tugas Anda adalah menjelaskan materi Kegiatan Belajar 3 dengan bahasa Anda sendiri dan lanjuntukan dengan menganalisa dinamika serikat pekerja di lingkungan kerja Anda. persoalan upah dan kondisi kerja yang diinginkan. Para buruh, umumnya, menuntut kontrak kerja yang tegas dan jelas.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi berkembangnya sebuah organisasi buruh di Amerika Serikat. Faktor-faktor terpenting adalah situasi ekonomi, keberadaan peraturan perundang-undangan, dan kepiawaian pemimpin serikat buruh.
            Ada sekurang-kurangnya 2 bentuk serikat buruh di Amerika Serikat, yaitu serikat buruh non-industri dan serikat buruh industri. Serikat buruh non-industri mencakup para buruh yang bekerja di bidang kerajinan, tanpa melihat di mana mereka bekerja. Contohnya, serikat buruh listrik, tukang kayu, dan percetakan. Serikat buruh non-industri (kerajinan) muncul dari serikat buruh percetakan dan pembuat kayu yang memulai gerakan buruh di Amerika Serikat.
            Perkembangan serikat buruh di Indonesia mengalami pasang surut. Kondisi perburuhan di Indonesia mengalami kondisi yang mengenaskan dari masa kolonial sampai rezim pemerintahan Orde Baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE PENELITIAN SOSIAL

METODE PENELITIAN SOSIAL
Definisi Penelitian adalah: Suatu proses penyelidikan secara sistematis yang ditujukan pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan masalah-masalah (Cooper & Emory, 1995)Usaha yang secara sadar diarahkan untuk mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru dan juga sebagai penyaluran hasrat ingin tahu manusia (Suparmoko, 1991). Metode Penelitian adalah: Cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah = didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis.Rasional = Penelitian dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia.Empiris = cara yang digunakan dapat diamati dengan indera manusia.Sistematis = proses penelitian menggunakan langkah2 tertentu yang bersifat logis.Penelitian sosial merupakan proses kegiatan mengungkapkan secara logis, sistematis, dan metodis gejala sosial yang terjadi di sekitar kita untuk direkon…

SOSIOLOGI LINGKUNGAN

SOSIOLOGI LINGKUNGAN
Definisi Lingkungan a.Menurut UURI No.4 Tahun 1982 & UURI No. 23 Tahun 1997 Tentang Lingkungan Hidup, lingkungan didefinisikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, kedaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perkehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. b.Menurut Soerjono Soekanto, lingkungan dibedakan dalam kategori-kategori sebagai berikut: Lingkungan fisik, yakni semua benda mati yang ada di sekeliling manusia.Lingkungan biologi, yakni segala sesuatu di sekeliling manusia yang berupa organisme yang hidup (manusia termasuk juga di dalamnya).Lingkungan sosial yang terdiri dari orang-orang, baik individual maupun kelompok yang berada di sekita manusia.
Definisi Ekologi Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yangterdiri dari dua kata, yaitu oikosyang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempel…

SOSIOLOGI PEMBANGUNAN

SOSIOLOGI PEMBANGUNAN
Sosiologi pembangunan berkembang pesat sejak awal 1960-an. Sebagai bagian dari ilmu sosiologi, sosiologi pembangunan sangat dipengaruhi oleh pokok-pokok pikiran ahli sosiologi klasik seperti Marx, Weber dan Durkheim. Perkembangan sosiologi pembangunan semakin pesat seiring dengan gagalnya program pembangunan yang disponsori oleh Amerika Serikat pada negara-negara dunia ketiga. Kegagalan pembangunan dunia ketiga tersebut memicu sebuah tanda tanya besar bagi peneliti sosial untuk mengungkap faktor-faktor penyebabnya. Kelima penulis walaupun menggunakan teori yang berbeda memiliki satu kesepahaman tentang kegagalan pembangunan pada negara dunia ketiga. Sosiologi pembangunan membawa dampak pada lahirnya dimensi-dimensi baru dalam konsep pembangunan. Menurut Webster (1984), terdapat lima dimensi yang perlu untuk diungkap, antara lain : 1.Posisi negara miskin dalam hubungan sosial dan ekonominya dengan negara-negara lain. 2.Ciri khas atau karakter dari suatu masyarakat ya…