Langsung ke konten utama

SOSIOLOGI HUKUM


SOSIOLOGI HUKUM

Definisi Sosiologi Hukum
            Sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti “kawan” dan kata Yunani Logos berarti “kata” atau “bicara”. Sosiologi berarti “bicara mengenai masyarakat” atau dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan ilmiah yang mempelajari hubungan2 sosial dalam kehidupan masyarakat sebagaimn adanya (das sein)
  • Paul B. Horton: Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.
  • Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi: ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan sosial.
  • Emile Durkheim: suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.
  • Auguste Comte: sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir dapat perkembangan ilmu pengetahuan. Bahwa sosiologi harus dibentuk berdasarkan pengamatan dan tidak kpada spekulasi perihal keadaan masyarakat.

Ciri Utama Sosiologi
1.      Bersifat empiris, yaitu didasarkan pada observasi terhadap kenyataan, tidak bersifat spekulatif
2.      Bersifat teoritis, yaitu menyusun abstraksi dari hasil observasi, bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.
3.      Bersifat kumulatif, yaitu bahwa teori sosiologi dibentuk atas dasar teori yang sudah ada, dalam arti membaiki dan memperhalus teori lama.
4.      Bersifat non-etis, yakni tidak mempersoalkan soal baik-buruk fakta, akan tetapi menjelaskan fakta secara analitis.
Sementara Hukum: dapat diartikan sebagai peraturan tentang boleh atau tidak, pantas atau tidak melakukan sesuatu. Jadi hukum merupakan pembatasan terhadap perilaku, sekaligus sebagai perintah yang harus dijalankan.
·        Kelsen: hukum adalah sebuah system Norma. Norma adalah pernyataan yang menekankan aspek “seharusnya” (das solen), dengan menyertakan beberapa peraturan tentang apa yang harus dilakukan. Kelsen percaya bahwa hukum merupakan pernyataan2 “seharusnya” tidak bisa direduksi ke dalam aksi2 alamiah.
·        Muchtar Kusumaatmadja: seperangkat asas dan kaidah yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat dan meliputi juga lembaga (institusi) dan proses yang mewujudkan berlakunya kaidah tersebut  dalam kenyataan.
·        Utrecht: Hukum itu adalah himpunan peraturan2 (perintah2 dan larangan2) yang mengurus tata tertib suatu masyarakat, dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat itu.
·        Soejono Soekanto: Sosiologi hukum adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang secara analitis dan empiris menganalisis atau mempelajari hubungan timbal balik antara hukum dengan gejala2 sosial lainnya.
·        John Austin: hukum adalah perintah dari kedaulatan, hukum sebagai instrumen yang melakukan/memenuhi kebutuhan publik.
            Berdasarkan pengertian di atas, berarti Sosiologi Hukum: merupakan ilmu terapan yang menjadikan Sosiologi sebagai subyek, sprt fungsi sosiologi dalam penerapan hukum, pembangunan hukum, pembaharuan hukum, perubahan masyarakat dan perubahan hukum, dampak dan efektivitas hukum, kultur hukum.
            Hukum diberi muatan nilai baru yang bertujuan untuk mempengaruhi atau menimbulkan perubahan sosial secara terarah dan terencana.

Secara ringkas Sosiologi Hukum dapat didefinisikan: sebagai ilmu pengetahuan ilmiah yang mempelajari hubungan timbal balik antara hukum dengan gejala2 sosial lainnya secara empiris analistis.
Sosiologi hukum: dalam mengkaji kekuatan norma sosial dan menguji kenyataan hukum dalam masyarakat dilakukan dengan penelitian empirik. Artinya: Kajian obyek studi sosiologi hukum, di samping mempelajari proses pelembagaan norma sosial, konsistensi, kegunaan, dan gejala perilaku normatif, juga melihat efektivitas penerapan peraturan hukum/ undang- undang di dalam masyarakat.
            Oleh karena kajian sosiologi hukum dalam mencari, mempelajari dan menganalisis data empirik tumbuh berkembangnya norma lebih berdasarkan kenyataan perilaku masyarakat, maka ia masuk dalam rumpun sosiologi.

Perbedaan Norma Sosial Dan Norma Hukum
1.      Norma hukum
  • Aturannya pasti (tertulis)
  • Mengikat semua orang
  • Memiliki alat penegak aturan
  • Dibuat oleh penguasa
  • Sanksinya berat
2.      Norma sosial
  • Kadang aturannya tidak pasti dan tidak tertulis
  • Ada/tidaknya alat penegak hk, tidak pasti (kadang ada, kadang tak ada)
  • Dibuat oleh masyarakat
  • Sanksinya ringan.

Norma sosial dan norma hukum merupakan aturan yang berlaku di suatu tempat.
Norma sosial: berkaitan erat dengan adat istiadat dan budaya yang berlaku di suatu tempat, dan sangat mungkin berbeda antara daerah satu dengan daerah lainnya.
Norma hukum: aturan produk dari pemerintah suatu wilayah, penerapannya berlaku umum, bagi siapa saja yang masuk dalam wilayah hukum tertentu. Konsekuensinya harus taat terhadap hukum yang berlaku di wilayah tersebut.

Dis-Harmoni Norma Sosial Dan Hukum
            Seringkali hukum yang berlaku tidak sama dengan norma sosial yang dalam kehidupan masyarakat setempat. Contoh: ketidakharmonisan antara norma hukum & norma sosial al:
a.      Perda (norma hukum) melarang usaha di trotoar, jalur hijau, atau badan jalan, akan tetapi ternyata norma sosial tidak melarangnya, karena terbukti banyak konsumen yang membutuhkannya. Artinya: selama norma sosial blm berubah, mk selamanya Perda larangan PKL tidak akan pernah efektif.
b.      KUHP ps 285 tidak bisa menjerat kumpul kebo selama tidak ada unsur paksaan atau atas dasar suka sama suka, tetapi sebagian besar norma sosial masyarakat Indonesia melarangnya. Artinya: tak mungkin orang akan mengakui dirinya kumpul kebo, dengan mengatakan suka sama suka, maka bebaslah perbuatan mesum kaligus mentertawakan pasal tersebut sepanjang masa.
            Memang hukum seharusnya (das solen) tidak bertentangan dengan norma sosial yang berlaku, tetapi hukum idealnya apat difungsikan sebagai pembanding dari norma sosial, yang pada akhirnya norma hukum tersebut secara perlahan akan diakui oleh masyarakat sehingga dengan sendirinya akan menjadi norma sosial. Fungsi dan peran pemerintah juga sangat penting dalam pembinaan masyarakat, sehingga masyarakat bisa tertib hukum dan tertib sosial.

CIRI HUKUM
Ciri2 hukum responsif atau otonom:
  • Hukum memenuhi kebutuhan kepentingan individu dan masyarakat.
  • Proses pembuatan hukum partisipatif.
  • Fungsi hukum sebagai instrumen pelaksana kehendak rakyat.
  • Interpretasi hukum dilakukan oleh yudikatif.
Ciri2 konfigurasi hukum yang otoriter:
  • Pemerintah atau eksekutif dominan.
  • Badan perwakilan sebagai alat justifikasi ( tukang stempel).
  • Pers yang tidak bisa bebas.
Ciri konservatif:
  • Hukum untuk memenuhi visi politik penguasa.
  • Pembuatan hukum tidak partisipatif.
  • Fungsi hukum sebagai legitimasi program penguasa.
  • Hukum abstrak interpretasi penguasa sesuai visi politiknya.


PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM
Perspektif Hukum sosiologis (kenyataan hukum):
            Sosiologi hukum: mengamati dan mencatat hukum dalam kenyataan kehidupan sehari-hari dan kemudian berusaha untuk menjelaskannya. Sosiologi hukum merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari kenyataan hukum dalam masyarakat, yaitu data, keterangan empirik, berita yang benar, fakta dan kejadian nyata sebagai dasar kajiannya (analisis).
            Sosiologi hukum: merupakan disiplin Ilmu yang mempelajari efektivitas fungsi2 hukum dalam memelihara stabilitas ketertiban, keamanan, keadilan, & ketenteraman masyarakat.

Perspektif sosiologis (kenyataan empiris):
Sosiologi Hukum: disiplin ilmu yang mempelajari dan menjelaskan kenyataan fungsi - fungsi norma sebagai pedoman masyarakat dalam bertindak, sekaligus menguji kebenaran hukum dalam kehidupan masyarakat.

OBYEK SOSIOLOGI HUKUM
Obyek Sosiologi Hukum: beroperasinya hukum dalam  masyarakat (ius operatum) atau law in action dan pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat.
Segi  statis (struktur): kaidah sosial, lembaga sosial, klmpk sosial dan lapisan sosial.
Segi dinamik (proses sosial): interaksi & perubahan sosial.
            Soetandyo Wignyosoebroto: mempelajari hukum sebagai alat pengendali sosial (by government). Mempelajari hukum sebagai kaidah sosial. Kaidah moral yang dilembagakan pemerintah. Stratifikasi sosial dan hukum. Hubungan  perubahan sosial dan perubahan hukum.
            Soerjono Soekanto: Hukum dan struktur sosial masyarakat. Hukum merupakan Social Value masyarakat. Hukum, kaidah hukum dan kaidah sosial lainnya. Stratifikasi sosial dan hukum. Hukum dan nilai sosial budaya. Hukum dan kekerasan. Kepastian hukum dan keadilan hukum. Hukum sebagai alat untuk melakukan perubahan sosial.

Karakteristik Kajian Sosiologi Hukum
1.      Deskriptif: menjelaskan praktik - praktik hukum yang dibedakan menurut UU, penerapan dalam pengadilan dan mempelajari praktik- praktik pada masing – masing  bidang hukum.
2.      Menjelaskan: penjelasan mengapa praktik hukum terjadi dalam masya sebab- sebab dan faktor, latar belakang, praktik hukum terjadi.
3.      Memprediksi: hukum sesuai atau tidak dengan masya tertentu (perbedaan yang mendasar antara pendekatan yuridis normative = tunduk pada hukum, antara yuridis empiris atau sosiologi hukum = menguji dengan data empiris, kenyataan hukum dalam masya).
Sosiologi hukum: tidak menilai hukum, akan tetapi pemberian penjelasan terhadap objek fenomena hukum yang dipelajari dalam masyarakat.

Kegunaan Sosiologi Hukum
1.      Kegunaan dalam Praktik Hukum: Sosiologi Hukum diperlukan dalam praktik Hukum, karena dalam analisis data berdasarkan hasil pengamatan empiris dan tidak bersifat abstrak.
2.      Pembaharuan proses Hukum, UU dan Kebijakan Sosial: dengan analisa Sosiologi Hukum, ditemukan Undang - undang, Hukum maupun Kebijakan Sosial yang berjalan baik dan yang tidak. Hasilnya dapat dijadikan dasar pembahuruan proses hukum.
3.      Menjaring aspirasi masyarakat: dengan mempelajari Sosiologi Hukum, mk perkembangan hukum dapat dikaji secara empiris sesuai dengan perubahan aspirasi masyarakat. Penerapan hukum berdasarkan kebutuhan masyarakat.
4.      Berguna dalam penelusuran subyek Hukum: dengan pendekatan sosiologi dalam penelitian Hukum  dapat membantu  penelusuran Subjek Hukum (Orang) secara empirik, sehingga penerapan hukum lebih efektif.
5.      Kontrol terhadap produk hukum dan kebijakan: Efektif/tidak produk dan penerapan hukum dalam masy dapat dianalisis secara empiris sosiologis. Kontrol masy dapat menutup perlawanan dan kekebalan hukum. Contoh: UU Pemilu Legislatif yang ditolak beberapa daerah, sehingga harus dilakukan peninjauan ulang.

Perubahan Hukum
“Hukum: sebagai pelopor perubahan “Agent of Change”
Setiap perubahan sosial menuntut perubahan hukum paling tidak ada 2 institusi, yaitu:
  • Lembaga Pembentuk Hukum.
  • Lembaga pelaksana Hukum
Perubahan hukum: tidak selalu dimaknai sebagai perubahan UU atau bunyi pasal.
            Hukum tidak sekedar produk masyarakat, tapi bisa dibentuk oleh pembentuk hukum itu sendiri, hakim dst. Jadi hukum bukan semata-mata tumbuh dalam masyarakat secara alami.
            Hukum Modern: Hukum tidak hanya merespon perubahan sosial yang terjadi, tapi juga merespon hukum masa depan (futuristik). Hukum sesungguhnya merupakan institusi yang mengikuti perubahan sosial.
            S. Rouck: pengendalian Sosial adalah suatu proses/ kegiatan, baik bersifat terencana/tidak yang mempunyai tujuan untuk mendidik (edukatif), mengajak (persuasif), memaksa (represif), agar perilaku masyarakat sesuai dengan kaidah yang berlaku (konform), sehingga hukum sebagai Agent of Stability (hukum sebagai penjaga stabilitas). Pada suatu ketika hukum ada di belakang (tertinggal).
            Von Savigny: hukum bukan merubah konsep dalam masyarakat karena hukum tumbuh secara alamiah dalam pergaulan masyarakat yang mana hukum selalu berubah seiring dengan perubahan sosial.
            Summer: setiap perubahan sosial terjadi “mores”, yaitu aturan tidak tertulis yang hidup di masyarakat. Jadi hukum hanya melegalisasi mores menjadi hukum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE PENELITIAN SOSIAL

METODE PENELITIAN SOSIAL
Definisi Penelitian adalah: Suatu proses penyelidikan secara sistematis yang ditujukan pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan masalah-masalah (Cooper & Emory, 1995)Usaha yang secara sadar diarahkan untuk mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru dan juga sebagai penyaluran hasrat ingin tahu manusia (Suparmoko, 1991). Metode Penelitian adalah: Cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah = didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis.Rasional = Penelitian dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia.Empiris = cara yang digunakan dapat diamati dengan indera manusia.Sistematis = proses penelitian menggunakan langkah2 tertentu yang bersifat logis.Penelitian sosial merupakan proses kegiatan mengungkapkan secara logis, sistematis, dan metodis gejala sosial yang terjadi di sekitar kita untuk direkon…

SOSIOLOGI LINGKUNGAN

SOSIOLOGI LINGKUNGAN
Definisi Lingkungan a.Menurut UURI No.4 Tahun 1982 & UURI No. 23 Tahun 1997 Tentang Lingkungan Hidup, lingkungan didefinisikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, kedaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perkehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. b.Menurut Soerjono Soekanto, lingkungan dibedakan dalam kategori-kategori sebagai berikut: Lingkungan fisik, yakni semua benda mati yang ada di sekeliling manusia.Lingkungan biologi, yakni segala sesuatu di sekeliling manusia yang berupa organisme yang hidup (manusia termasuk juga di dalamnya).Lingkungan sosial yang terdiri dari orang-orang, baik individual maupun kelompok yang berada di sekita manusia.
Definisi Ekologi Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yangterdiri dari dua kata, yaitu oikosyang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempel…

SOSIOLOGI PEMBANGUNAN

SOSIOLOGI PEMBANGUNAN
Sosiologi pembangunan berkembang pesat sejak awal 1960-an. Sebagai bagian dari ilmu sosiologi, sosiologi pembangunan sangat dipengaruhi oleh pokok-pokok pikiran ahli sosiologi klasik seperti Marx, Weber dan Durkheim. Perkembangan sosiologi pembangunan semakin pesat seiring dengan gagalnya program pembangunan yang disponsori oleh Amerika Serikat pada negara-negara dunia ketiga. Kegagalan pembangunan dunia ketiga tersebut memicu sebuah tanda tanya besar bagi peneliti sosial untuk mengungkap faktor-faktor penyebabnya. Kelima penulis walaupun menggunakan teori yang berbeda memiliki satu kesepahaman tentang kegagalan pembangunan pada negara dunia ketiga. Sosiologi pembangunan membawa dampak pada lahirnya dimensi-dimensi baru dalam konsep pembangunan. Menurut Webster (1984), terdapat lima dimensi yang perlu untuk diungkap, antara lain : 1.Posisi negara miskin dalam hubungan sosial dan ekonominya dengan negara-negara lain. 2.Ciri khas atau karakter dari suatu masyarakat ya…