Skip to main content

MAKALAH KEPEMIMPINAN
(Hasil Penelitian di Desa Setanggor, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Memimpin, mengarahkan, mengayomi, dan mempengaruhi orang lain adalah suatu hal yang tidak mudah serta tidak semua orang mempunyai kemampuan tersebut, karena memimpin merupakan sebentuk tanggung jawab yang besar dan berat untuk diemban yang membutuhkan pertanggung jawaban terhadap orang lain atau yang dipimpin terutama sekali terhadap diri sendiri.
Tak jarang seorang pemimpin justru meggiring bawahan atau yang dipimpinnya kearah keterpurukan dan kehancuran, sehingga tak jarang pula terjadi miss komunikasi dan hilangnya rasa kepercayaan para bawahan terhadap atasan atau yang dipimpin yang kemudian berimbas pada terancamnya reputasi dan wibawa seorang pemimpin. Untuk itu seorang pimpinan harus mampu menjadi publik figur yang akan selalu tetap terlihat dan dianggap baik dihadapan bawahannya.
Kepemimpinan adat salah satunya, dimana pemimpin adat biasanya mengkaper individu atau masyarakat dalam kapasitas yang besar dan masih bersifat tradisional sehingga mereka yang dipimpin akan lebih mudah untuk diarahkan dan menerima segala instruksi serta keinginan dari seorang pimpinan, dikarenakan dalam kepemimpinan masyarakat adat lebih identik dengan tipe kepemimpinan yang kharismastik dan patriarkal/paternalistik.
Namun kemudian menjadi suatu pertanyaan besar ketika kita berbicara masalah kepemimpinan dalam konteks era globalisasi dan modernisasi, dimana kehidupan adat mulai tergeser dan terjamah oleh pola hidup westernisasi atau kebaratan yang memarginalkan nuansa kehidupan adat yang cendrung mereka rasakan mengikat kreativitas dan dinamika serta mobilisasi segala aspek kehidupan untuk menuju kearah yang lebih maju, terutama sekali dalam pola kepemimpinan karena birokrasi kepemimpinan sangat berpengaruh dalam penentuan kebijakan aspek kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
Melihat kondisi demikian, maka kami merasa tergugah untuk menelusuri sejauh mana kepemimpinan adat akan mampu bertahan dan akankah kepemimpinan itu akan tetap dianggap ideal oleh masyarakatnya.
Sementara itu dalam menelusuri permasalahan tersebut, tekhnik interview kami anggap merupakan alternatif dan teknik yang paling relevan dalam mencari fakta dan sumber yang aktual.

B. Rumusan Masalah
Apakah kepemimpinan adat masih tetap dirasaka ideal dan eksis ditengah-tengah modernisasi dan globalisasi kehidupan masyarakat dalam segala aspek.

C. Kerangka Teori
Vethzal Rivai (2006), memberikan definisi tentang pemimpin yang menyatakan bahwa pemimpin adalah seseorang yang menjadi figur dalam mewakili kelompoknya dan sebagai tempat pengambilan resiko jika terjadi sebentuk tekanan terhadap kelompoknya, karena pemimpin merupakan orang yang dipercayakan mampu menegemban dan diberikan tanggung jawab oleh yang dipimpin.
Dari itu, agaknya kepemimpinan adat lebih relevan dengan apa yang dinyatakan oleh Vethzal Rivai, karena adat merupakan sesuatu yang dianggap sakral dan vital dalam kehidupan masyarakat sehingga sosok pemimpin dianggap sebagai penghubung antara tuhan dengan manusia, antara arwah nenek moyang denagan keturunannya, atau hubungan antara dunia nyata dengan dunia maya. untuk itu seorang pemimpin dijadikan sebagai tempat mengadukan masalah hidup dalam bermasyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup Objek Kajian
Mamiq Wira, demikianlah lelaki paruh baya ini akrabnya disapa oleh masyarakat sekitarnya dan kerabat dekatnya. Yang mana ia memiliki nama panjang Lalu Zainal Abidin dengan usia sekitar 53 tahun dan kini beliau dipercayakan memegang amanat sebagai ketua adat di desa Setanggor, Kecamatan Sukamulya Kabupaten Lombok Timur.
Sepintas memang kita tidak akan menyangka kalau beliau adalah seorang ketua adat di desanya karena tidak layaknya seorang pemimpin adat pada umumnya yang identik dengan balutan pakaian adat mulai dari sapuk (ikat kepala) sampai kain dodot (kain songket khas adat sasak) sebagai ikat pinggang, serta dengan sikap dan kesehariannya yang begitu unik dan sederhana serta penuh sopan santun seolah-olah membawa nuansa keakraban dan kekelurgaan bagi setiap orang yang menyapa dan apa lagi sampai terlibat percakapan dengannya yang semakin meyakinkan kita bahwa beliau adalah bukan orang yang penting.
Meskipun demikian bukan berarti justru akan mengurangi wibawanya dihadapan masyarakat, namun tidak jauh berbeda dengan orang-orang terkemuka dan terpandang yang lain di desanya itu, beliau juga begitu dipandang dan dihormati oleh para masyarakat di sekitarnya sebagaimana penuturan bapak Mustamin yang juga seorang KADUS Ketangga salah satu dusun di Desa Setanggor tempat Mamiq Wira tinggal saat ini, bahwasanya beliau adalah seorang yang sederhana dan mampu bergaul serta memiliki wawasan yang cukup tinggi tentang hal-hal yang menyangkut masalah adat meskipun beliau tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi atau pendidikan khusus mengenai kebudayaan dan adat layaknya orang berpendidikan atau sarjana budaya lainnya.
Jika dipandang dari segi pendidikannya, pada dasarnya Mamiq Wira memang hanya pernah menjalani dunia pendidikan sampai pada jenjang pendidiakan menengah atau setingkat SMP pada masanya dulu. Namun kenyataan itu bukanlah menjadi ukuran sehingga beliau dipercayakan menduduki posisi ketua adat di desanya, karena dari segi pengalaman dan pengetahuan yang ia dapatkan terutama sekali dari lingkungan keluarga dan kerabat dekatnya sudah tergolong cukup luas.

B. Analisa
Ternyata asal-usul pemimpin agaknya memberikan kontribusi yang cukup signifikan dan besar terhadap efektifitas kepemimpinan seseorang, di kalangan para ahlipun terjadi kontra persepsi yang masing-masing berkeras diri pada pendapat masing-masing dengan rasionalisasi dan bukti yang cukup relevan. Namun ada dua pandangan yang cukup dominan mengenai efektif atau tidaknya seorang pemimpin jika dilihat dari aspek sumber atau asal-usul munculnya seorang pemimpin tersebut.
Sondang P. Siagian misalnya yang berpendapat bahwa seseorang menjadi pemimpin karena pada dasarnya ia telah terlahir ke dunia ini dibarengi dengan kemampuan dan bakat kepemimpinan (Leader Are Born). Karena dalam pandangan ini terdapat asumsi mendasar yang paling berperan yakni nasib atau takdir. Untuk itu pada pandangan yang pertama ini cendrung menapikan keberadaan proses, entah itu yang berupa pendidikan ataupun pengalaman, karena meski bagaimanapun proses perjalanan hidup yang dilalui seseorang, jika pada dasarnya ia tidak ditakdirkan menjadi seorang pemimpin, maka ia tidak akan pernah menjadi pemimpin yang efektif.*
Kemudian di sisi lain ada lagi yang berpendapat bahwa pemimpin itu ada karena ia melalui proses penempaan dan pembentukan, entah itu pendidikan ataupun pengalaman (Leader Are Made). Dimana dalam statemen ini dijelaskan bahwa dengan melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan atau intensif, maka pada giliranya dengan sendirinya kemampua memimpin dari seseorang akan muncul dan tentunya akan membentuk karakteristik kepemimpinan yang akan ia jalani (ibid).*
Dari kedua pandangan yang telah dikemukakan di atas, salah satu diantaranya agaknya cukup relevan dengan apa yang terjadi pada Mamiq Wira dan masyarakat Desa Setanggor. Yakni pemimpin itu terlahir melalui serangkaian proses, baik itu proses formal maupun non formal yang berupa pendidikan, pelatihan, dan pengalaman.
Sebagaimana yang telah diterangkan di atas bahwasanya jika dilihat dari segi pendidikan formal yang pernah ditempuhnya, sangat jauh sekali kemungkinan untuk bisa mejadikan beliau sebagai seorang ketua adat. Namun bukan berarti pula dengan status kebangsawanan sasak (Lalu) yang beliau sandang itulah yang paling berpengaruh besar terhadap posisi dan jabatan ketua adat yang beliau pegang saat ini akan tetapi di luar dari konteks itu, Mamiq Wira memang memiliki pemahaman dan pengetahuan yang cukup luas tentang lingkup permasalahan adat sehingga dengan demikian bukan suatu kemustahilan kalau seandainya oleh masyarakat dan pemuka/tokoh masyarakat yang ada di Desa Setanggor melimpahkan tugas kepemimpinan tersebut kepada beliau, demikian tutur Bapak Mustamin selaku informan yang kami wawancarai.
Lebih lanjut lagi bapak Mustamin memaparkan bahwasanya status kebangsawanan yang disandang seseorang tidak begitu berpengaruh terhadap pantas atau tidaknya orang tersebut menjadi ketua atau pemimpin adat, akan tetapi sebagai penghormatan terhadap status dan usia seseorang maka diberikan jabatan pada posisi penasehat dan penaggung jawab atau pelingsir.
Dalam pandangan masyarakat Desa Setanggor, kedudukan ketua adat hampir sejajar dengan seorang kepala desa, karena pada konteks saat ini kepemimpinan adat telah memiliki struktur organisasi tersendiri layaknya organisasi sosial kemasyarakatan lainnya yakni yang terdiri dari Penasihat Dan Penanggung Jawab Yang Mencakup Kepala Desa Dan Pemuka Masyarakat, Ketua Umum, Ketua I, Ketua II, Sekretaris, Bendahara, Dan Anggota. Hanya saja ketua adat memiliki lingkup kerja yang lebih spesifik yakni dihususkan pada permasalahan/ perihal yang menyangkut adat istiadat masyarakat seperti perkawinan terutama.
Melihat kondisi demikian, agaknya telah terjadi sebentuk pergeseran dan perkembangan pada pola kepemimpinan adat, yang mana nuansa kharismatik tidak lagi begitu ditonjolkan dalam penentuan siapa saja yang boleh menjadi seorang pemimpin dan struktur kepengurusannya pun telah mengikuti alur modernisasi. Tidak seperti pada masa dulunya yang mengutamakan status kebangsawanan yang disandang seseorang untuk memperoleh sesuatu.* Dan juga dalam konteks kepemimpinan adat pada masa dulu, cakupan kerjanya bukan hanya pada lingkup perkawinan, akan tetapi hampir semua permasalahan yang ada dalam masyarakat seperti masalah kehidupan, kelahiran, nyunatan (hitanan), hingga sampai permasalahan kematian diakomodir oleh tokoh adat atau ketua adat sehingga tokoh adat atau ketua adat memiliki arti yang vital dan sakral dalam kehidupan bermasyarakat. Atau dengan kata lain, sebelum melalui prosesi dan kesepakatan adat maka suatu aktivitas sosial belum boleh untuk dijalankan.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Suatu bentuk sifat yang paling lekat dan tidak bisa dihilangkan dalam diri manusia adalah sifat dinamisme dan inovatif yang ingin terus menerus mencoba sesuatu yang baru dan berkembang menuju kearah yang lebih maju dan lebih baik disegala aspek kehidupan, tak terkecuali dalam konteks adat istiadat dan kepemimpinannya.
Arus globalisasi dan modernisasi telah menggiring semuanya kearah perubahan dan pergeseran yang cukup berarti dan itu terlihat dari perubahan pola kepemimpinan dan struktur yang ada dalam bentuk pengorganisasian untuk mengakomodir kepentingan adat.
Sehingga orang terkadang berusaha melepaskan diri dari struktur yang ada dikarenakan sudah dirasakan usang dan tidak sesuai lagi dengan dimensi hidup saat ini dan yang akan datang sehingga suatu perihal yang saat ini dirasakan ideal, untuk beberapa waktu kedepannya pasti akan dirasakan usang yang secara perlahan akan tersingkir dengan beberapa apaya penyesuaian dan bahkan akan dibuang begitu saja tanpa ada sebentuk pertimbangan yang harus dilalui.

DAFTAR PUSTAKA DAN INFORMAN

A. DAFTAR PUSTAKA
- Bafaddal, Robyan Endrew. 2008. Hand-Out Mata Kuliah Kepemimpinan
- Ali, Yacub. 1998. Perubahan Nilai Upacara Tradisional Pada Masyarakat Sasak. Percetakan pasifik. Mataram.
B. DAFTAR NAMA INFORMAN
- Lalu Zainal Abidin ( 53 Tahun ), Ketua Adat.
- Mustamin ( 44 Tahun ), Kela Dusun Ketangga

Comments

Popular posts from this blog

METODE PENELITIAN SOSIAL

METODE PENELITIAN SOSIAL
Definisi Penelitian adalah: Suatu proses penyelidikan secara sistematis yang ditujukan pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan masalah-masalah (Cooper & Emory, 1995)Usaha yang secara sadar diarahkan untuk mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru dan juga sebagai penyaluran hasrat ingin tahu manusia (Suparmoko, 1991). Metode Penelitian adalah: Cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah = didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis.Rasional = Penelitian dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia.Empiris = cara yang digunakan dapat diamati dengan indera manusia.Sistematis = proses penelitian menggunakan langkah2 tertentu yang bersifat logis.Penelitian sosial merupakan proses kegiatan mengungkapkan secara logis, sistematis, dan metodis gejala sosial yang terjadi di sekitar kita untuk direkon…

Mount Rinjani Trekking Activity

Mount Rinjani Lombok
Mount Rinjani or Gunung Rinjani 3726 MASL is an active volcano in Indonesia on the island of Lombok. Administratively the mountain is in the Regency of North Lombok, West Nusa Tenggara (Indonesian: Nusa Tenggara Barat, NTB). It rises to 3,726 metres (12,224 ft), making it the second highest volcano in Indonesia. On the top of the volcano is a 6-by-8.5-kilometre (3.7 by 5.3 mi) caldera, which is filled partially by the crater lake known as Segara Anak or Anak Laut (Child of the Sea) due to blue color of water lake as Laut (Sea).[3] This lake is approximately 2,000 metres (6,600 ft) above sea level and estimated to be about 200 metres (660 ft) deep; the caldera also contains hot springs. Sasak tribe and Hindu people assume the lake and the mount are sacred and some religion activities are occasionally done in the two areas.
A massive eruption of Rinjani in 1257 CE may have triggered an episode of global cooling and failed harvest.
Rinjani National Park
The volcano an…

SOSIOLOGI LINGKUNGAN

SOSIOLOGI LINGKUNGAN
Definisi Lingkungan a.Menurut UURI No.4 Tahun 1982 & UURI No. 23 Tahun 1997 Tentang Lingkungan Hidup, lingkungan didefinisikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, kedaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perkehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. b.Menurut Soerjono Soekanto, lingkungan dibedakan dalam kategori-kategori sebagai berikut: Lingkungan fisik, yakni semua benda mati yang ada di sekeliling manusia.Lingkungan biologi, yakni segala sesuatu di sekeliling manusia yang berupa organisme yang hidup (manusia termasuk juga di dalamnya).Lingkungan sosial yang terdiri dari orang-orang, baik individual maupun kelompok yang berada di sekita manusia.
Definisi Ekologi Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yangterdiri dari dua kata, yaitu oikosyang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempel…